Surat Kerinduan ---___---

Senin, 23 Juli 2012

15 tahun sudah. Aku rasa waktu yang cukup panjang.

Abah, bagaimana kabarmu?
Apakah Abah selama ini sudah damai?
Apakah Tuhan dan malaikat-malaikatNya baik padamu?
Bagaimana dengan syurga? Apakah benar-benar sangat indah?
Bagaimana baunya? Apakah benar-benar harum?
Apakah Abah makan dengan baik?
Apakah Abah makan makanan apa saja yang Abah inginkan?
Apakah benar ada berbagai macam buah dan sayuran segar?
Apakah Abah dilayani oleh bidadari yang baik dan cantik?
Apakah Abah selama ini sudah menikmati semua hal yang sudah dijanjikan Tuhan bagi umatNya yang beriman dalam Al-qur'an itu?
Aku rasa Abah sudah menikmatinya. Abah sudah sangat damai dan bahagia selama ini kan?
Karena Abah adalah salah satu umat Tuhan yang beriman, tentu itulah hadiah untuk Abah.
Tapi, tahukah Abah bagaimana kami? 
Kami tak seperti dulu lagi. Kami tak sama seperti dulu. Semua sudah sangat berbeda. 
Abah, bisakah Abah mengembalikan semuanya seperti dulu lagi?
Seperti saat kau masih bersama-sama dengan kami.
Bisakah Abah mengembalikan kebahagiaan yang seperti dulu?
Bisakah Abah membantu kami menyelesaikan masalah yang sulit atau bahkan tak mampu kami selesaikan?
Bisakah Abah mengurangi bahkan mencabut segala penderitaan yang kami alami?
Setidaknya, bisakah Abah memohon pada Tuhan agar melakukannya untuk kami?

Abah, aku bodoh kan?
Mengapalah aku mempertanyakan hal konyol semacam ini?
Tak sepantasnya aku meragukan mu kan? 
Aku dan kami semua tahu tak sedikit pun kau lengah dari memandangi kami selama 15 tahun ini. Menjaga dan mengasihi kami dari syurga.
Menghangatkan tubuh kami ketika kami merasa kedinginan.
Begitu pula ketika kami merasa kepanasan, kau hadir untuk mendinginkan kami.
Menyentuh wajah dan mengelus rambut kami ketika kami terjaga.
Mengahapus airmata kami yang sudah kering saat kami tak sengaja terlelap karena telah lelah menangis.
Meski kau tak terlihat. Meski kau tak berada di antara kami, namun kau selalu hadir kapanpun di tiap hari kami.

Tapi, entahlah mengapa kini aku begitu  menginginkan kehadiranmu Abah.
Sepertinya aku merindukanmu, sangat merindukanmu.
Tidakkah kau merasakan hal yang sama?
Tentu kau merasakan hal yang sama. Abah pasti selalu merindukanku bukan?
Tapi, tidakkah Abah ingin hadir dalam hidup kami lagi?  Setidaknya aku. Putri bungsumu yang kehilanganmu bahkan diusia yang masih sangat belia.
Saat itu aku masih 2 tahun. Tidakkah kau ingat?
Aku tahu, Abah takkan mungkin bisa mewujudkan keinginan konyolku. 
Tapi setidaknya abah sangat ingin memeluk, mencium, menggendong, menghabiskan waktu yang telah terlewatkan bersamaku meski hanya di dalam mimpi bukan?

Abah, tidakkah kau tahu betapa aku menginginkannya?
Aku ingin kau peluk, kau cium, menangis di pangkuanmu, tertawa bersamamu, dan menceritakan apapun yang aku alami setiap harinya padamu.
Apakah itu semua berlebihan?
Aku tahu, aku takkan bisa mengalaminya lagi di dunia nyata. Karena Abah adalah milik Tuhan dan Abah sudah kembali pada pemilik Abah. 
Tapi, setidaknya bisakah kau mewujudkannya dalam mimpiku?
Atau setidaknya kau menampakkan bagaimana rupamu. 
Atau sekedar melambaikan tanganmu ke arahku.
Atau sekedar mamanggil namaku, karena aku sangat ingin mendengar kau memanggil namaku dengan suara indahmu, Abah. 

Saat ini aku benar-benar menginginkan kehadiranmu, Abah.
Aku menangis saat mengutarakan perasaanku dalam surat ini, Abah.
Bisakah kau melihatnya?

Inilah bentuk rasa rinduku padamu, Abah.
Maka, aku mohon hadirlah di mimpiku.
Atau bisakah kau membawaku bersamamu ke syurga agar kita bisa bersama dan aku dapat merasakan kehangatanmu? 

Kau selalu dalam do'aku Abah.
Putri bungsumu yang kau beri nama yang begitu indah, Robi'ah Adawiyah. 
     

0 komentar: